Balai Taman Nasional Kayan Mentarang kembali menugaskan tim patroli untuk melakukan pengawasan kawasan hutan. Kali ini, wilayah kerja SPTN Wilayah II Resort Mentarang Tubu menjadi fokus kegiatan, dengan target patroli di sekitar Desa Rian Tubu.
Sebanyak enam anggota tim dan didampingi oleh warga lokal, memulai perjalanan panjang yang tidak mudah. Selama kurang lebih 12 hari, tim harus menembus lebatnya hutan, melintasi sungai, hingga mendaki dan menuruni jalur yang curam dan licin, sebuah bentuk komitmen nyata dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Menyusuri Sungai Mentarang
Tim memulai perjalanan Malinau menggunakan perahu menuju Desa Koala Lapang, titik terakhir yang dapat dijangkau oleh perahu. Selama kurang lebih lima jam, tim menyusuri Sungai Mentarang yang saat itu sedang dalam kondisi air bagus.
Namun di beberapa titik, perjalanan harus terhenti. Jiram yang besar memaksa tim turun dari perahu untuk mengurangi beban, sehingga tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tepi sungai yang dipenuhi bebatuan licin. Medan yang menantang ini menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi dalam menjalankan tugas pengawasan kawasan.
Menembus Jalur Darat Menuju Rian Tubu
Setibanya di Desa Koala Lapang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Desa Rian Tubu. Jalur yang dilalui tidak kalah berat, sejauh kurang lebih 10 KM tim sering melintasi sungai berarus kuat denganbebatuan yang licin di dasarnya, tak jarang juga mendaki dan menuruni perbukitan yang terjal, ditambah membawa beban logistik di punggung. Perjalanan ini menjadi gambaran nyata bahwa menjaga hutan bukan sekadar tugas administratif, melainkan kerja lapangan yang menuntut fisik, mental, dan ketahanan yang tinggi.
Patroli di Jantung Hutan
Setelah beristirahat di Desa Rian Tubu, tim melanjutkan perjalanan menuju titik patroli. Sekitar dua jam berjalan kaki, akhirnya tim memutuskan untuk mendirikan pondok sederhana di lokasi yang dinilai strategis, yaitu dekat dengan area kebun masyarakat dan sungai sebagai kebutuhan utama tim.
Selama lima hari lamanya, patroli dilakukan secara intensif di wilayah yang telah ditentukan. Tim menyusuri hutan dan melintasi sungai lagi dan lagi untuk memastikan kondisi kawasan tetap terjaga.Berbagai temuan menjadi indikator penting akan kesehatan ekosistem, di antaranya jejak Beruang Madu serta dugaan sarang Trenggiling dan Landak yang ditemukan oleh tim patroli.Selain itu, tim patroli juga melakukan pendataan vegetasi, mencatat keberadaan jenis dan melakukan pengukuran beberapa pohon seperti tengkawang, pelawan, kapur, keruing, dan meranti merah. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi kawasan TNKM masih relatif asri dan terjaga.

Ujian Alam di Penghujung Perjalanan
Menjelang akhir patroli, hujan deras mengguyur kawasan sekitar camp. Sungai di dekat lokasi pondok meluap, disertai suara benturan kayu-kayu yang hanyut, menciptakan suasana yang menegangkan.
Beruntung, air tidak sampai memasuki camp. Keesokan harinya, kondisi mulai membaik dan debit air berangsur surut, memungkinkan tim untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Belajar dari Keteguhan Warga Lokal
Dalam perjalanan kembali menuju Desa Koala Lapang, tim sempat bertemu dengan warga lokal yang tengah hendak juga melakukan perjalanan menuju Desa Koala Lapang. Pemandangan yang begitu membekas bagi tim patroli, yaitu saat melihat langsung seorang ibu yang berjalan kaki sambil menggendong anaknya, menempuh jarak sekitar 10 kilometer di medan yang tidak mudah.
Namun di tengah keterbatasan akses dan beratnya perjalanan, tidak tampak sedikitpun keluh di wajah mereka. Sebaliknya, tersirat keteguhan, ketulusan, dan penerimaan terhadap kehidupan yang dijalani. Kisah ini menjadi pengingat bahwa masyarakat lokal bukan hanya bagian dari kawasan, tetapi juga penjaga nilai dan warisan yang telah diwariskan turun-temurun.
Kolaborasi untuk Kelestarian
Pengalaman patroli ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Kolaborasi antara petugas dan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Melalui semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang diharapkan tetap lestari, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Narasi: Admin
Foto: Dok SPTN Wilayah II Mentarang Tubu
