Di bagian paling sunyi hutan Kalimantan Utara, terdapat sebuah wilayah yang tidak pernah tercatat dalam peta penjelajahan ataupun hiruk-pikuk peradaban. Tempat itu bernama Padang Savana Long Tua. Sebuah bentang alam yang terasa begitu berbeda di tengah lebatnya hutan hujan Kalimantan.
Hamparan savana luas membentang menguning seperti lautan emas. Kabut tipis menggantung setiap pagi, sementara malam dipenuhi suara satwa liar yang saling bersahutan, seolah menyanyikan lagu alam yang tak pernah berhenti. Namun, bukan hanya savananya yang membuat tempat ini istimewa. Di sanalah hidup seekor banteng Kalimantan yang gagah dan perkasa, satwa liar yang telah menjaga kawasan itu selama puluhan tahun.

Masyarakat Dayak Kenyah menyebutnya “Kelesiau”, sementara dunia mengenalnya sebagai Bos javanicus lowi atau Banteng Kalimantan. Ini bukan dongeng, bukan pula cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semua ini nyata, hidup, dan masih dapat ditemukan di lapangan hingga hari ini.
Pada tanggal 22 April hingga 6 Mei 2026, tim patroli kawasan dari Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah II Long Alango melaksanakan kegiatan patroli dan penjagaan kawasan di Long Tua. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi kawanan banteng Kalimantan. Tim patroli terdiri dari dua personel TNKM dan dua masyarakat desa penyangga yang bersama-sama menjalankan tugas konservasi di wilayah tersebut.
Melalui arahan Kepala Resor Sungai Bahau, kegiatan difokuskan pada pembinaan habitat banteng Kalimantan di Padang Savana Long Tua. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen TNKM dalam menjaga kelestarian habitat dan keberlangsungan hidup satwa liar di kawasan konservasi.
Kegiatan pembinaan habitat dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemotongan rumput tua menggunakan mesin rumput agar tunas-tunas muda dapat tumbuh kembali menghijau. Selain itu, dilakukan pula pembakaran terkendali pada sebagian area savana dengan pengawasan ketat agar api tidak merambat keluar kawasan. Setelah proses tersebut, rumput-rumput muda akan kembali tumbuh segar dan menjadi sumber pakan alami yang sangat disukai banteng Kalimantan.

Tidak hanya banteng, kawasan ini juga menjadi tempat hidup berbagai satwa herbivora lainnya seperti kijang, payau, babi hutan, dan pelanduk. Kehidupan liar di savana Long Tua menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting sebagai sumber pakan dan ruang hidup satwa-satwa hutan.
Dalam kegiatan patroli, tim juga melakukan pengambilan data dari kamera jebak (camera trap) yang telah dipasang sebelumnya. Dari hasil dokumentasi tersebut, terlihat beberapa foto dan video kawanan banteng yang sedang menikmati rumput muda hasil pembinaan habitat yang telah dilakukan. Momen itu menjadi bukti bahwa upaya kecil yang dilakukan dengan kesungguhan mampu memberi manfaat nyata bagi keberlangsungan satwa liar.
Karena itu, kegiatan pemeliharaan habitat di Padang Savana Long Tua perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar kawanan banteng dan satwa herbivora lainnya tidak keluar kawasan untuk mencari pakan. Menjaga dan merawat rumah sang penjaga savana bukan hanya tugas petugas konservasi, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar habitat ini tetap lestari dan kehidupan liar di dalamnya terus terjaga.
“Rumah sang penjaga savana bukan sekadar tempat, melainkan warisan ketulusan yang dijaga dengan cinta. Merawatnya berarti menghormati alam, menjaga kenangan, dan meneruskan nilai kehidupan bagi generasi yang akan datang.”
Salam cinta, salam juang, karena cinta kita berjuang. Salam konservasi.
Narasi : Irfan Andika
Foto : SPTN Wilayah II Long Alango